Cerita Kami

Press Release Webinar: "Sawfish in Indonesia: Introduction"

Setelah berhasil melakukan webinar pertama, Sawfish Project Indonesia kembali mengadakan webinar kedua yang bertemakan pengenalan pari gergaji di Indonesia. Akhir-akhir ini, konservasi pari gergaji di dunia banyak disoroti dan menjadi topik yang ramai diperbincangkan karena populasinya terus mengalami penurunan hingga saat ini, tak terkecuali di Indonesia. Namun sangat disayangkan konservasi pari gergaji di Indonesia belum terlalu masif seperti konservasi jenis hiu dan pari lainnya.

Webinar kedua Sawfish Project Indonesia kali ini menghadirkan narasumber Matthew McDavitt dari Sawfish Conservation Society, sebuah kelompok berskala internasional yang berfokus pada konservasi pari gergaji di seluruh dunia. Matthew dikenal sebagai “Sherlock Holmes”-nya pari gergaji karena pengenalan beliau mengenai pari gergaji di seluruh dunia sangat lengkap. Fokus bahasan webinar kali ini yaitu pada pengenalan pari gergaji di Indonesia yang mencakup kondisi terkini, sejarah distribusi, serta cerita nilai budaya dari pari gergaji di Indonesia.

 

Menurut paparan Matthew, Indonesia merupakan salah satu negara yang paling potensial untuk menjadi habitat pari gergaji. Hasil studinya menunjukkan bahwa Indonesia memiliki habitat sawfish yang tersebar dari barat hingga ke timur. Hal ini dibuktikan dengan beberapa contoh kasus yang didapatkan seperti tertangkapnya Sawfish di Sumatera, Kalimantan, hingga di Merauke didua tahun belakangan ini. Bukti ini memperkuat bahwa masih terdapat pari gergaji di wilayah perairan Indonesia, namun dalam jumlah yang sudah jauh lebih sedikit.

“Ditinjau dari peta persebaran pari gergaji secara global, dahulunya ikan ini dapat ditemukan di 92 negara. Namun karena populasinya yang terus mengalami penurunan sampai sekarang, pari gergaji hanya ditemukan di 24 negara saja untuk saat ini. Jika dibandingkan jumlah populasi pari gergaji saat ini dengan 60 tahun yang lalu, populasinya mengalami penurunan secara drastis yang diperkirakan mencapai 95%, yang artinya populasi pari gergaji yang tersisa saat ini hanyalah 5%”, tutur Matthew.

Melihat sejarah pari gergaji, hewan yang memiliki moncong menyerupai gergaji ini ternyata sudah dibahas dalam cerita adat masyarakat Islam Kutai. Diceritakan bahwa seorang penyebar agama yang berasal dari pesisir Sulawesi bernama Tuan Tunggang Parangan datang untuk menyebarkan Islam di wilayah Kutai pesisir Kalimantan. Hal yang menarik adalah bahwa ia datang ke Kalimantan dengan menunggangi seekor ikan besar dengan moncong panjang dan banyak duri di sisinya – pari gergaji. Ikan tersebut diyakini sebagai kekuatan yang membuat Tuan Tunggang Parangan berhasil dalam menyebarkan ajarannya. Cerita rakyat seperti ini akan sangat penting untuk dijadikan sebagai suatu pedekatan kepada masyarakat dalam menyampaikan pesan moral untuk upaya konservasi pari gergaji di Indonesia.

Kolaborasi dari berbagai pihak yang mendukung adanya konservasi pari gergaji di Indonesia masih sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, Sawfish Project Indonesia berupaya mengenalkan pari gergaji melalui berbagi media yang ada kepada masyarakat umum agar lebih banyak yang terlibat dalam mendukung keberlangsungan jenis pari yang sudah dilindungi ini.